Showing posts with label bid'ah. Show all posts
Showing posts with label bid'ah. Show all posts

Sunday, April 24, 2016

ASWAJA (AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH) ADALAH GOLONGAN RASULULLAH


Penulis dan Analisis Sejarah oleh Von Edison Alouisci

Awal Munculnya Aswaja.

Aswaja (ahlussunnah wal jama`ah sesungguhnya identik dengan pernyataan nabi "Ma Ana 'Alaihi wa Ashabi" seperti yang dijelaskan sendiri oleh Rasululloh SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud bahwa :"Bani Israil terpecah belah menjadi 72 Golongan dan ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk nereka kecuali satu golongan". Kemudian para sahabat bertanya ; "Siapakah mereka itu wahai rasululloh?", lalu Rosululloh menjawab : "Mereka itu adalah Maa Ana 'Alaihi wa Ashabi" yakni mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga dilakukan oleh para sahabatku.

artinya..perbuatan dan tindak tanduk Rasulullah dan sahabat..maka ia di sebut golongan Aswadul adzom.

Di wilayah sejarah, proses pembentukan Aswaja terentang hingga zaman al-khulafa’ ar-rasyidun, yakni dimulai sejak terjadi Perang Shiffin yang melibatkan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA dengan Muawiyah. Bersama kekalahan Khalifah ke-empat tersebut, setelah dikelabui melalui taktik arbitrase (tahkim) oleh kubu Muawiyah, ummat Islam makin terpecah kedalam berbagai golongan seperti dijelaskan diatas .
Di antara kelompok-kelompok itu, adalah sebuah komunitas yang dipelopori oleh Imam Abu Sa’id Hasan ibn Hasan Yasar al-Bashri (21-110 H/639-728 M), lebih dikenal dengan nama Imam Hasan al-Bashri, yang cenderung mengembangkan aktivitas keagamaan yang bersifat kultural (tsaqafiyah), ilmiah dan berusaha mencari jalan kebenaran secara jernih. Komunitas ini menghindari pertikaian politik antara berbagai faksi politik (firqah) yang berkembang ketika itu. Sebaliknya mereka mengembangkan sistem keberagamaan dan pemikiran yang sejuk, moderat dan tidak ekstrim. Dengan sistem keberagamaan semacam itu, mereka tidak mudah untuk mengkafirkan golongan atau kelompok lain yang terlibat dalam pertikaian politik ketika itu.

pengikut Ahlussunnh wal jama`ah sesungguhnya

Seirama waktu, sikap dan pandangan tersebut dalam uraiaj diatas diteruskan ke generasi-generasi Ulama setelah beliau, di antaranya Imam Abu Hanifah Al-Nu’man (w. 150 H), Imam Malik Ibn Anas (w. 179 H), Imam Syafi’i (w. 204 H), Ibn Kullab (w. 204 H), Ahmad Ibn Hanbal (w. 241 H), hingg tiba pada generasi Abu Hasan Al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H).

Kepada dua ulama terakhir inilah permulaan faham Aswaja sering dinisbatkan; meskipun bila ditelusuri secara teliti benih-benihnya telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Perkataan Ahlussunah wal Jama’ah kadang-kadang dipendekkan menyebutnya dengan Ahlussunah saja, atau Sunny saja dan kadang-kadang disebut ‘Asy’ari atau Asya’irah, dikaitkan kepada guru besarnya Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Berkata Sayid Mutadha az Zabidi, pengarang kitab “Ittihaf Sadaatul Muttaqin”, yaitu kitab yang mensyarah kitab “Ihya Ulumuddin”, karangan Imam Ghazali :
Artinya : Apabila disebut “Ahlussunah wal Jama’ah” maka yang dimaksudkan dengan ucapan itu ialah paham atau fatwa-fatwa yang disiarkan oleh Imam Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi (I’tihaf jilid II, halaman 6).

“Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya’irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi” (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.)

“Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari)” (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38).

“Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103)

“Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Hasyiyah Al-’Adwi, Ali Ash-Sha’idi Al-’Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105)

“Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu ‘anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)” (Hasyiyah At-Thahthawi ‘ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4)

DALAM LITETUR SEJARAHNYA..TIDAK ADA SATUPUN PENJELASAN BAHWA AHLUSSUNNAH ITU NISBAH KEPADA MUHMMAD BIN ABDUL WAHAB PENDIRI WAHABI SALAFI ATAU DULU DIKENAL DENGAN NAMA SEKTE MU`AWIDDUN

Nama wahabi tidak dikenal sama sekali dan baru muncul abad ke 17.dan lagi pula nisbahnya ke muhmmad bin abdul wahab.Jika pengiku wahabi salafi mengaku ' AHLUSSUNNAH BERMANHAJ SALAF"
tentu tidak akan nisbah ke muhammad bin abdul wahab yang jaraknya amat jauh dari generasi awal.
dan ini artinya Ahlussunnah versi wahabi berbeda Maksudnya walau mengatas namakan Ulama salaf karna jelas mereka justru memahami Sunnah memalalui akal Ijtihad muhmmad bin abdul wahab terlebih dahulu.sedangkan aswaja langsung memahami sunnah pada kajian Ulama besar aswaja yang rata rata memang Ulama salaf dan tentunya lebih ORIGINAL ( tidak dikurangi dan tidak pula di lebih lebihkan) .

Untuk memahami sunnah sebenarnya agar tetap benar..maka HUKUM SANAD adalah
NOMOR SATU karna jika keluar dari kaidah sanad maka gurunya adalah syetan,mengada ada.. bisa berkurang dan bisa di tambah tambahi guna untuk melancarkan agar ajarannya diterima sebagimana sekte yang keluar dari al jama`ah dan tentu hal begini meragukan (subhat ). ajaran yang subhat begini..namanya juga subhat(meragukan)..harus di tinggalkan kalau tak ingin makin dalam Rusak pemahaman.Sesunghya syetan dan dajal itu menciptakan perkara perkara subhat, dan yang salah kelihatan benar dan yang benar kelihatan salah dan hanya Insan Insan yang JELI bisa membedakan.dan itu di dorong dengan Ilmu yang didapat dari jalan SANAD,bukan menduga duga dengan akal sendiri benar atau salahnya.ingat,yang dirasa masuk akal belum tentu benar.dan yang dianggap benar belum tentu masuk akal.(ajaran syetan).sesungguhnya aga,a ini kokoh bukan karna akal pribadi melainkan DALIL yang jelas dan tidak subhat..dan tentunya dalil ini hanya di dapat dari Dokument asli. dan uraiaan Ulama bersanad.dan sekali lagi ingatklah bahwa hukum sanad itu sesungguhnya MENGUTAmaKAN AMANAH generasi sebelumnya dan kebaranian luas biasa di bawah Sumpah' DEMI ALLAH dengan siap dalam setiap RESIKO"

lihatlah perkataan Ulama salaf :

berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu”
(Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

dan sebagAi bahan pertimbangan maka perlu juga diperhatikan..hal hal berikut JIKA MEMANG MENGIKTI JEJAK RASULULLAH :

Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al jamaaah ( Khilafah Islam ), maka ia mati sebagaimana bangkai jahiliyyah “ ( H.R. Muslim ).

Nabi juga memerintahkan supaya berpegang tegung pada jamaah mayoritas.Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168). “Barangsiapa yang menolak sunnahku maka bukan dari golonganku” (Shahih Bukhari).

Segala puji bagi Allah dan kemuliaan Nabiku Muhammad bin abdullah..Alhamdulillah sampai sekarang Aswaja berdiri KOKOH dan tetap menjadi kelompok besar walau banyak tantangan untuk menjaga eksistensinya di dunia Islam.INTAHA.

Sumber : makalah pribadi

Thursday, April 14, 2016

Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!

Hanif Luthfi, Lc 
Bagikan via 

Sampai atau Tidak Sampai, Bukan Boleh atau Tidak Boleh

Memang ada juga yang nyinyir, ketika membahas sampai tidaknya pahala bacaan al-Qur’an perspektif Imam Syafi’i. Dengan menyebutkan; “katanya ikut madzhab Syafi’i, tapi kenapa tak ikut Imam as-Syafi’i (w. 204 H)?”
Agak susah sebenarnya melacak langsung pernyataan Imam as-Syafi’i (w. 204 H), tentang bacaan al-Quran yang dihadiahkan pahalanya kepada mayit itu muthlak tidak sampai, maksudnya dengan keadaan apapun. Biasanya kebanyakan mengambil dari pernyataan Ibnu Katsir ad-Dimasyqi (w. 774 H) dalam tafsirnya; Tafsir al-Quran al-Adzim, h. 7/ 465, serta pernyataan Imam an-Nawawi (w. 676 H), bahwa yang masyhur dari madzhab as-Syafi’i adalah tidak sampai.
فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يصل
Pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi’i dan beberapa jamaah adalah tidak sampai (Pahala bacaan al-Qur’an) (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Adzkar, h. 278).
Ada beberapa catatan terkait pernyataan Imam as-Syafi’i (w. 204 H), yang sering dinukil oleh mereka yang menyatakan tidak sampai ini.
Pertama, pernyataan tak sampainya bacaan al-Quran kepada mayyit dengan keadaan apapun, dari Imam as-Syafi’i ini secara jelas susah dilacak, kalaupun ada ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab as-Syafi’i.
Terlebih ini adalah pernyataan yang sepotong. Apakah dalam semua keadaan, bacaan al-Qur’an kepada mayyit itu tidak sampai, atau ada syarat khusus dan kriteria tertentu agar bisa bermanfaat kepada mayyit.
Karena Imam as-Syafi’i (w. 204 H) pernah juga menyatakan sendiri dalam kitabnya al-Umm:
وأحب لو قرئ عند القبر، ودعي للميت
Saya menyukai jika dibacakan al-Quran di kuburnya, dan juga didoakan. (Imam Muhammad bin Idris as-Syafi'i w. 204 H, al-Umm, h. 1/ 322)
Hal ini diperkuat dengan pernyataan Imam an-Nawawi (w. 676 H):
قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن، وإن ختموا القرآن عنده كان حسنا
Imam as-Syafi’i (w. 204 H) mengatakan: Disunnahkan membaca al-Qur’an kepada mayit yang telah di kubur. Jika sampai khatam al-Qur’an, maka itu lebih baik.(Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, Riyadh as-Shalihin, h. 295)
Ada hal menarik disini. Jika dikatakan menurut Imam as-Syafi’i (w. 204 H) muthlak tidak sampai dalam keadaan apapun, kenapa Imam as-Syafi’i (w. 204 H) malah menganjurkan mengkhatamkan al-Qur’an kepada mayit setelah di kuburkan? Atau bahasa lainnya, Imam as-Syafi’i (w. 204 H) malah menganjurkan khataman al-Qur’an di kuburan. Perlu dicatat, Imam as-Syafi'i (w. 204 H) tak pernah menyatakan bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada mayyit itu bid'ah yang sesat. 
Imam as-Syafi'i (w. 204 H) juga tak pernah menyatakan bahwa membaca al-Quran di kuburan itu bid'ah. Beda dengan yang mengaku mengikuti Imam as-Syafi'i (w. 204 H) dalam hal tak sampainya bacaan saja. Tetapi giliran menjelaskan hukum membaca al-Qur'an di kuburan, malah membid'ah-bid'ahkan.
Syeikh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khallal al-Baghdadi (w. 311 H) mempunyai kitab khusus terkait membaca al-Quran di kuburan. Kitab itu berjudul: al-Qiraah Inda al-Qubur
Beliau menukil pernyataan Imam as-Syafi'i (w. 204 H) dari Hasan bin as-Shabbah az-Za'farani (w. 260 H); salah seorang murid Imam as-Syafi'i (w. 204 H) dan guru dari sekian banyak Muhaddits, seperti Imam al-Bukhari, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Huzaimah. (ad-Dzahabi w. 748, Siyar A'lam an-Nubala', h. 12/ 262).
Disebutkan dalam kitab al-Qira'ah Inda al-Qubur:
أخبرني روح بن الفرج، قال: سمعت الحسن بن الصباح الزعفراني، يقول: سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال: لا بأس به
al-Hasan bin as-Shabbah az-Za'farani (w. 260 H) bertanya kepada Imam as-Syafi'i tentang membaca al-Qur'an di kuburan. Beliau menjawab: Iya, tidak apa-apa(Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khallal al-Baghdadi w. 311 H, al-Qiraah inda al-Qubur, h. 89)
Kedua, tentu yang lebih paham tentang fiqih Syafi’i adalah para ulama asli madzhab as-Syafi’I, bukan ulama dari non Syafi’iyyah pastinya. Karena sangat rentan mutilasi pernyataan atau kesalahan dalam memahami perkataan.
Syaikh al-Islam Zakaria Al-Anshari as-Syafi’i (w. 926 H) dan Ibnu Hajar Al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H), sebagai ulama dalam madzhab as-Syafi’i menyimpulkan bahwa, maksud bacaan al-Quran itu tidak sampai jika tidak diniatkan atau tidak dibacakan di hadapan si mayit. (lihat: Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshori w. 926 H, Fath al-Wahhab, h. 2/ 23, dan Ibnu Hajar Al-Haitami w. 974 H, Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, 2/ 27).
Ketiga, ini yang terpenting. Memang masalah ini menjadi perbedaan diantara para ulama sejak dahulu. Hanya saja perbedaan mereka terkait, “Sampai atau tidak”, bukan pada “Boleh atau tidak boleh” atau “Ada tuntunannya atau tidak” atau “Rasulullah melakukannya atau tidak”.
Sebenarnya ikhtilaf ini bisa menjadi mudah, jika masih dalam tataran sampai atau tidak sampai. Bagi yang mengikuti ulama yang menyatakan sampai, ya silahkan dilanjutkan, yang menyatakan tidak sampai ya, sudah tak usah mengamalkan. Simpel kan?

Mengaji Fiqih Hanbali dari Ulama Hanbali

Jika memahami fiqih Syafi’i harusnya dari ulama Syafi’iyyah, tentu hal yang sama juga dalam memahami fiqih Hanbali.
Termasuk jika ada yang nyinyir mengatakan,“Katanya ikut madzhab Syafi’i, tapi kenapa tak ikut Imam as-Syafi’i (w. 204 H)?”, silahkan balas saja;“Katanya ikut madzhab Hanbali, tapi kenapa tak ikut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)?”
Hampir-hampir ulama Hanbali yang muktamad, semuanya menyatakan sampainya kiriman pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit, termasuk Surat al-Fatihah.
Mana dalilnya? Kalau mau tau, silahkan tanya ulama dibawah ini:

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H): Bacalah Surat al-Fatihah Saat ke Kuburan

Abu Bakar Al-Marrudzi al-Hanbali (w. 275 H); salah seorang murid terdekat Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah mendengar sendiri Imam Ahmad berkata:
قال المروذي: سمعت أحمد يقول: إذا دخلتم المقابر فاقرءوا بفاتحة الكتاب والمعوذتين، وقل هو الله أحد، واجعلوا ثواب ذلك إلى أهل المقابر؛ فإنه يصل إليهم، وكانت هكذا عادة الأنصار في التردد إلى موتاهم؛ يقرءون القرآن.
Saya (al-Marrudzi) pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah Surat al-Fatihah, al-Muawwidzatain dan al-Ikhlas. Lantas jadikanlah pahala bacaan itu untuk ahli kubur, maka hal itu akan sampai ke mereka. Dan inilah kebiasaan kaum Anshar ketika datang ke orang-orang yang telah wafat, mereka membaca al-Qur’an.(Mushtafa bin Saad al-Hanbali w. 1243 H, Mathalib Ulin Nuha, h. / 935).
Disini ada 2 hal penting: Pertama, Membaca Surat al-Fatihah kepada mayyit itu dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
Kedua, Membaca al-Qur’an di kuburan itu bukan hal yang dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshar. Paling tidak, ini menurut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
Hal itu bisa kita temukan di kitab Mathalib Ulin Nuha, karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali (w. 1243 H). Beliau seorang ulama madzhab Hanbali kontemporer, seorang mufti madzhab Hanbali di Damaskus sejak tahun 1212 H sampai wafat. KitabMathalib Ulin Nuha itu sendiri adalah syarah atau penjelas dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf al-Karmi (w. 1033 H). (Khairuddin az-Zirikly w. 1396 H, al-A’lam, h. 7/ 234)
Kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf (w. 1033 H) ini juga banyak mengambil dari 2 kitab ulama Hanbali sebelumnya; al-Iqna’ li Thalib al-Intiqa’karya Musa bin Ahmad Abu an-Naja al-Hajawi (w. 968 H) dan Muntaha al-Iradat karya Taqiyuddin Ibn an-Najjar al-Futuhi (w. 972 H). Artinya Kitab Mathalib Ulin Nuha diatas, secara sanad keilmuan fiqih Hanbali, bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanadnya.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah(w. 728 H): Yang Benar Adalah Semua Pahalanya Sampai, Bahkan Termasuk Shalat

Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H) memang disatu sisi menjadi panutan utama beberapa kalangan yang membid’ahkan pengiriman pahala bacaan al-Qur’an.
Hanya dalam kaitan pengiriman pahala bacaan al-Qur’an ini, Fatwa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tak begitu dihiraukan.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa juz 24 halaman 367 :
وأما القراءة والصدقة وغيرهما من أعمال البر فلا نزاع بين علماء السنة والجماعة في وصول ثواب العبادات المالية كالصدقة والعتق كما يصل إليه أيضا الدعاء والاستغفار والصلاة عليه صلاة الجنازة والدعاء عند قبره. وتنازعوا في وصول الأعمال البدنية: كالصوم والصلاة والقراءة. والصواب أن الجميع يصل إليه
Adapun bacaan Al-Quran, shodaqoh dan ibadah lainnya termasuk perbuatan yang baik dan tidak ada pertentangan dikalangan ulama ahli sunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah seperti shodaqoh dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, sholat dan doa di kuburan. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, sholat dan bacaan. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit.
Serunya dalam fatwa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ini, beliau menyebut bahwa baik puasa, bacaan al-Qur’an bahkan shalat sekalipun itu akan sampai transferan pahalanya kepada mayyit.
Lah, kira-kira bagaimana teknisnya mengirim pahala shalat kepada mayyit, menurut fatwa Ibnu Taimiyyah ini ya? Kirim pahala shalat untuk mayyit, bid’ah apa lagi ini?

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah (w.751 H): Perkataan Bahwa Tak Ada Tuntunannya Dari Ulama Salaf, Itu Adalah Perkataan Dari Orang Yang Tak Ada Ilmunya

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah (w. 751 H) sebagai murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bahkan menjelaskan panjang lebar masalah ini. So, jika ingin tahu dalilnya, baca saja kitab ar-Ruh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menyebut:
وأي فرق بين وصول ثواب الصوم الذي هو مجرد نية وإمساك بين وصول ثواب القراءة والذكر، والقائل أن أحدا من السلف لم يفعل ذلك قائل مالا علم له به
Apa bedanya sampainya pahala puasa dengan bacaan al-Qur’an dan dzikir. Orang yang mengatakan bahwa ulama salaf (bukan salafi) tak pernah melakukan hal itu, berarti orang itu tak ada ilmunya (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, ar-Ruh, h. 143)
Agak pedas memang pernyataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) ini. Kata beliau, justru para salaf-lah yang melakukan hal itu. Mereka yang mengatakan para salaf tak pernah melakukannya, berarti perkataan itu muncul dari orang yang tak ada ilmunya.

Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H): Kaum Muslimin di Tiap Waktu dan Tempat, Mereka Berkumpul Untuk Menghadiahkan Bacaan al-Qur’an Untuk Mayit

Ulama Hanbali yang lebih senior dari Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H) adalah Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H).
Dengan jelas beliau menyebut bahwa, di tiap waktu dan di seluruh penjuru negeri, kaum muslimin berkumpul untuk membaca al-Qur’an. Lantas pahala bacaan al-Qur’an itu mereka hadiahkan kepada orang yang telah wafat, tanpa ada yang mengingkarinya. Dan itu adalah ijma’ kaum muslimin.
ولنا، ما ذكرناه، وأنه إجماع المسلمين؛ فإنهم في كل عصر ومصر يجتمعون ويقرءون القرآن، ويهدون ثوابه إلى موتاهم من غير نكير
Ijma’ kaum muslimin menyatakan bahwa di tiap waktu dan di seluruh penjuru negeri, kaum muslimin berkumpul untuk membaca al-Qur’an. Lantas pahala bacaan al-Qur’an itu mereka hadiahkan kepada orang yang telah wafat, tanpa ada yang mengingkarinya.(Ibnu Quddamah al-Hanbali w. 620 H, al-Mughni, h. 2/ 423)
Tentu pernyataan yang serius jika hal ini telah menjadi ijma’ kaum muslimin, dimana hampir semua zaman dan setiap tempat, para kaum muslimin melaksanakannya.
Bahkan lebih dari itu, mereka melakukannya dengan berkumpul berjamaah, bareng-bareng membaca al-Qur’an untuk dikirimkan kepada mayyit, persis seperti yang ada di negeri kita Indonesia ini.
Paling tidak, itulah yang dialami oleh Ibnu Quddamah al-Maqdisi (w. 620 H) dan kaum muslimin di Damaskus, sekitar 8 abad yang lalu di hampir seantero negeri saat itu. Sekali lagi, penyebutan kata ijma' ini keluar dari Imam Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H).

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H)

Dalam hal ini, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) lebih memilih bahwa bacaan al-Quran itu sampai dan boleh.
القول الثاني: أنه ينتفع بذلك وأنه يجوز للإنسان أن يقرأ القرآن بنية أنه لفلان أو فلانة من المسلمين، سواء كان قريبا أو غير قريب. والراجح: القول الثاني لأنه ورد في جنس العبادات جواز صرفها للميت
Pendapat kedua, adalah mayyit bisa mendapat manfaat dari apa yang dikerjakan orang yang masih hidup. Hukumnya boleh, orang membaca al-Quran lantas berkata; “Saya niatkan pahala ini untuk fulan atau fulanah. Baik orang itu kerabat atau bukan. Ini adalah pendapat yang rajih. (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin w. 1421 H, Majmu’ Fatawa wa Rasail, h. 7/ 159)

Mari Ittiba’ Rasul!

Pernyataan ini benar, tapi tak jarang disalahgunakan. Suatu amalan yang pernah dikerjakan Nabi atau belum pernah itu, bukan standar satu-satunya sebuah amalan dikatakan boleh atau tidak boleh.
Justru kesalahan logika yang fatal, jika membuat sebuah kaidah ushul fiqih baru bahwa, amalan yang tak pernah dijalankan Nabi pasti semuanya bid’ah yang haram.
Tentu jika orang awam yang ditanya, “Memang Nabi pernah melakukannya?” pasti akan melongo, tak bisa jawab. Seolah dalil satu-satunya adalah ‘pernah dijalankan Nabi’. Padahal ada hal yang penting untuk dibahas terlebih dahulu, yaitu mendefiniskan apa itu dalil, berikut kriteria dan macam-macam dalil itu.
Kembali kepada judul tulisan, jika ingin tahu dalil sampai dan bolehnya bacaan al-Quran kepada orang yang telah wafat, silahkan digali dari ulama diatas.
Jika menganggap bahwa perbuatan menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an itu bid’ah, itu sama artinya menganggap Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) beserta ulama hanbali lainnya menganjurkan kebid’ahan.
Jika menganggap ulama salaf tak pernah menghadiahkan pahala bacaan al-Quran, sepertinya harus sekali-kali piknik ke kitabnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H).
Jika menanggap bahwa berkumpul untuk bersama-sama membaca al-Qur’an, lalu pahalanya dikirimkan kepada mayyit hanya budaya Nusantara yang diwarisi dari Agama Hindu, sepertinya harus piknik ke kitabnya Ibnu Quddamah (w. 620 H).
Yuk kita piknik ke luasnya samudra ilmu para ulama! Dari situ kita ittiba' Rasulullah shallaAllahu alaihi wa sallam.
Wallahua'lam bisshawab.

Thursday, March 17, 2016

JANGANLAH MELARANG SESUATU JIKA TIDAK ADA DALIL YANG MENETAPKANNYA



Salah satu kaidah ushul fiqih berbunyi
والأصل في عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة
Wal aslu fi ‘aadaatinal ibaahati hatta yajii u sooriful ibahah
“Dan hukum asal dalam kebiasaan ( adat istiadat ) adalah boleh saja sampai ada dalil yang memalingkan dari hukum asal”.
Artinya , segala kebiasan (adat istiadat) atau segala perkara di luar perkara syariat (diluar dari apa yang telah disyariatkanNya) selama tidak melanggar satupun laranganNya atau selama tidak ada laranganNya atau selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits serta ijma dan qiyas maka hukum asalnya adalah mubah (boleh). Perubahan hukum asalnya tergantung jenis perbuatannya.
Barangsiapa yang melarang suatu perbuatan di luar perkara syariat (di luar dari apa yang telah disyariatkanNya) dengan mempergunakan kaidah ushul fiqih yang berbunyi “al-ashlu fil ‘ibaadati at-tahrim” yang maknanya “hukum asal ibadah adalah haram” maka dia telah membuat suatu larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak pernah pula disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena kaidah tersebut bukan firmanNya dan bukan pula perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kaidah ushul fiqih tersebut digunakan untuk beristinbat, menetapkan hukum perkara kedalam hukum taklifi yang lima yakni wajib, sunnah (mandub), mubah, makruh, haram.
Sehingga suatu perbuatan dilakukan atau tidak dilakukan setelah ditetapkan hukum perkaranya kedalam hukum taklifi yang lima tersebut. Jika perbuatan itu berdosa jika dilakukan (haram/larangan) maka tinggalkanlah (jangan dilakukan) dan jika perbuatan itu berdosa jika ditinggalkan (wajib) maka lakukanlah (jangan ditinggalkan)
Jadi makna kaidah ushul fiqih “al-ashlu fil ‘ibaadati at-tahrim” adalah kita tidak boleh menetapkan hukum perkara terkait dosa, baik sesuatu yang ditinggalkan berdosa (perkara kewajiban) maupun sesuatu yang dikerjakan / dilanggar berdosa (perkara larangan/pengharaman) tanpa ada dalil yang menetapkannya.
Salah satu metode istinbat yang dihindari oleh para Imam Mujtahid adalah al-Maslahah al-Mursalah atau istislah yakni “Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ dan qiyas terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata atau berdasarkan akibat perbuatan tersebut yang oleh syara’ (dalam Al Qur’an dan Hadits) tidak dijelaskan ataupun dilarang”
Metode istinbat, al maslahah-mursalah atau istislah pertama kali diperkenalkan oleh Imam Malik ra (W. 97 H.), pendiri mazhab Malik namun pada akhirnya beliau meninggalkannya. Sejak setelah abad ketiga hijriyah tidak ada lagi ahli usul fiqih yang menisbatkan maslahahmursalah kepada Imam Malik ra.
Menurut Imam Syafi’i ra cara-cara penetapan hukum seperti itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.
Ibnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti itu. Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, dapat terjerumus kedalam mengharamkan sesuatu tanpa dalil.
Siapapun yang menetapkan sebagai perkara dosa, baik sesuatu yang ditinggalkan berdosa (perkara kewajiban) maupun sesuatu yang dikerjakan / dilanggar berdosa (perkara larangan/pengharaman) yang tidak pernah ditetapkan atau disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla maka dia telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah ta’ala tidak turunkan keterangan padanya.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Sungguh segala perkara dosa yakni perkara yang jika tinggalkan berdosa (kewajiban) dan perkara yang jika dilanggar atau dikerjakan berdosa (larangan dan pengharaman) adalah hak Allah ta’ala menetapkannya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
Hadits ini menjelaskan ketetapan sekaligus mempertegas kewajiban-kewajiban, apa yang telah Allah tetapkan bagi hambanya, dan larangan melampaui batas yang telah Allah tentukan dalam al-Qur’an dan Sunnahnya serta larangan menanyakan apa yang telah Allah diamkan karena itu sebagai rahmat bagi hambanya.
Sudah menjadi kepastian hukum al-Qur’an, bahwa apa yang telah Allah ‘azza wa jalla perintahkan atau wajibkan pada makhluknya akan mendatangkan mashlahat bagi pelakunya. Begitu juga sebaliknya, apa Allah ‘azza wa jalla larang untuk dilakukannya, maka sebenarnya di balik pelarangan itu ada mudharat bagi pelakunya.
Yang dimaksud dengan sabda Nabi “janganlah kalian melanggarnya” yaitu janganlah kalian masuk kedalamnya dan larangan membicarakan atau mencari-cari hal-hal yang didiamkan (dibolehkan) oleh Allah, sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ
“Biarkanlah dengan apa yang aku biarkan pada kalian, karena hancurnya (celakanya) umat sebelum kamu disebabkan mereka banyak bertanya dan suka mendebat (menyalahi) nabi-nabi mereka. Oleh karena itu, bila kuperintahkan mengerjakan sesuatu, laksanakanlah semampunya, dan apabila kularang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera”. (HR Muslim 2380)
Inilah yang menjadi salah satu sebab kehancuran dari kaum bani Israil yang karena mereka banyak tanya.
إن أعظم المسلمين في المسلمين جرما من سأل عن شيء لم يحرم على المسلمين فحرم عليهم من أجل مسألته
Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yang bertanya tentang hal yang tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena pertanyaannya” (shahih Muslim hadits no.2358)
Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang didiamkanNya adalah dibolehkan (dimaafkan). Maka, terimalah kebolehan (kemaafan) dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu.” Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): “Dan tidak sekali-kali Rabbmu itu lupa.” (HR. Al Hakim dari Abu Darda’, beliau menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar)
Salah satu bid’ah yang terlarang (bid’ah dholalah) adalah bid’ah dalam urusan agama (urusan kami) atau bid’ah dalam perkara syariat atau bid’ah dalam urusan yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya yakni melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghindari mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya dengan mencontohkan meninggalkan sholat tarawih berjama’ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih berjama’ah sepanjang bulan Ramadhan adalah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa.
Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.” ( HR Muslim 1270 )
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan tidak membuat sesuatu larangan yang tidak dilarangNya dengan tidak melarang para Sahabat berpuasa sunnah setiap bulan hijriah melebihi apa yang telah beliau contohkan hanya 3 hari karena Allah Azza wa Jalla memang tidak melarangnya
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Syahin Al Washithiy telah menceritakan kepada kami Khalid bin ‘Abdullah dari Khalid Al Hadzdza’ dari Abu Qalabah berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Al Malih berkata; Aku dan bapakku datang menemui ‘Abdullah bin ‘Amru lalu dia menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikabarkan tentang shaumku lalu Beliau menemuiku. Maka aku berikan kepada Beliau bantal terbuat dari kulit yang disamak yang isinya dari rerumputan, lalu Beliau duduk diatas tanah sehingga bantal tersebut berada di tengah antara aku dan Beliau, lalu Beliau berkata: Bukankah cukup bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulannya? ‘Abdullah bin ‘Amru berkata; Aku katakan: Wahai Rasulullah? (bermaksud minta tambahan) . Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Lima hari. Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Tujuh hari. Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Sembilan hari. Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Sebelas hari. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Tidak ada shaum melebihi shaumnya Nabi Daud Aalaihissalam yang merupakan separuh shaum dahar, dia berpuasa sehari dan berbuka sehari. (HR Bukhari 1844)
Allah ta’ala berfirman
اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah: 3)
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan nikmat Allah yang paling besar, yaitu ketika Allah menyempurnakan agama bagi manusia sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain islam, tidak membutuhkan seorang nabi pun selain nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah Allah ta’ala mengutus beliau sebagai nabi penutup para nabi dan mengutus beliau kepada manusia dan jin. Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya.”
Mereka telah nyata-nyata mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya atau mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya atau melarang sesuatu yang tidak dilarangNya
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf [7] : 33)
حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارِ بْنِ عُثْمَانَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي غَسَّانَ وَابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ أَلَا إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا
Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Al Misma’i, Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar bin Utsman, teks milik Ghassan dan Ibnu Al Mutsanna, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku ayahku dari Qatadah dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy Syakhir dari Iyadh bin Himar Al Mujasyi’i Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada suatu hari dalam khutbah beliau: Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)
Mereka adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarakan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga bertasyabuh kepada kaum Nasrani , menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )
Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“
Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

Kitab Al- i’tisham (Imam Syatibi) Vs Wahaby : Tasawwuf Bukan Bid’ah


Imam Asy-syatibi (Penulis Kitab Al-I’tisham) Membungkam Wahhaby
al i'tisham cover
Alhamdulillah, cahaya  hidayah mulai menyebar dimuka bumi seiring dengan bangkitnya dakwah ahlusunnah waljamaah. Berbondong-bondong umat mendapatkan hidayah, kedok dantipu daya  musuh-musuh Islam mulai terbuka. Sehingga jelaslah  mana haq dan mana yang batil. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan ummat diseluruh alam, serta menjadikannya  asbab hidayah.
Pada Risalah ini akan dibahas mengenai fatwa-fatwa ahlusunnah dalam kitab Al-I’tisham (kitab yang membahas mengenai Bid’ah dan seluk beluknya) karya Imam Asy-syatibi, karena pernyataan-pernyataan dalam kitab ini sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam yang mengaku-ngaku sebagai salafy (Wahhaby). Bagi mereka yang ingin membaca kitab al-I’tisham ini hendaklah membacanya dengan teliti dan hingga tuntas, jangan setengah-setangah. Kitab tarjamah ini, Insya Allah  dapat di Download :
http://www.scribd.com/doc/13441519/Al-iTisham-Imam-Syatibi
Beberapa hal yang akan dibentangkan berasal dari tarjamah kitab al-I’tisham ,diantaranya adalah  :
  • Tassawuf Bukan Bid’ah (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 )
  • Mimpi Bertemu Allah atau nabi yang dapat dijadikan acuan untuk beramal (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, halaman 308-310).
  • Kewajiban Bertaqlid kepada imam Mujtahid dan haramnya Ber-ijtihad bagi orang yang bukan Mujtahid (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, Halaman  879- 880)
  • Aqidah Imam Ahlusunnah : Allah ada tanpa tempat dan arah! (dalam kitabnya berjudul Al-Ifadaat Wa Al-Insyadaat pada bilangan 11-Ifadah : Al-Isyarah Lil Baiid Bi Ismi Al-Isyarah Al-Maudhu’ Lil Qorib mukasurat 93-94)
Imam Asy-syatibi (Penulis Kitab Al-I’tisham) Membungkam Wahhaby
  1. Tassawuf Bukan Bid’ah (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 )
al i'tisham 237 delik tasawwuf
“3. Delik-delik Tasawuf………………………………………………..237
3. Delik-delikTasawuf
Tasawuf bukan termasuk perkara bid’ah dan bukan pula permasalahan yang dapat dipecahkan dengan dalil secara mutlak, karena perkara ini terbagi-bagi…..dst.” (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 ).
Mengenai ajnuran bertasawwuf tanpa meninggalkan syari’at/fiqh juga disebutkan Dalam  Imam Syafii :
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Dar el-mareefah, pp. 42]
Download Diwan Asyafii- Dar el-mareefah Beirut 9 (Lihat di page 42) :
http://www.scribd.com/doc/13455395/Diwan-esSafii-Diwan-Imam-Syafei-Beirut
2. Mimpi Bertemu Allah atau nabi yang dapat dijadikan acuan untuk beramal (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, halaman 308-310).
al i'tisham 309 new ok
“H. Menilai Berdasarkan Maqam (Derajat Kemanusiaan)
Yang paling hebat hujjahnya adalah kaum yang mengambil amal perbuatan hanya bersandar kepada maqam-maqam. Standar mereka untuk menerima atau menolak adalah hal tersebut. Mereka berkata, “Aku melihat si fulan adalah orang shalih.” la lalu berkata kepada kami, “Tinggalkanlah ini… kerjakanlah ini.” Yang seperti ini banyak kecocokan dengan orang-orang yang memakai bentuk tasawuf. Mungkin sebagian mereka berkata, “Aku melihat Nabi SAW dalam tidurku (mimpi), lalu beliau bersabda kepadaku begini…dan memerintahkanku untuk mengerjakan ini…” la mengerjakan dan meninggalkan segala sesuatu karena mimpi itu, tanpa mempedulikan batasan-batasan yang ada dalam syariat, dan itu adalah perbuatan yang salah, karena mimpi dari selain para nabi tidak dapat dijadikan hukum yang sejajar dengan syariat dalam segala kondisi, kecuali bersesuaian dengan hukum-hukum syariat yang ada pada kita. Jika syariat membolehkannya maka ia akan mengerjakannya sesuai dengan tuntutan, dan jika tidak demikian maka tinggalkanlah dan berpalinglah darinya, karena mimpi itu hanya untuk memberi kabar gembira atau peringatan.
Sedangkan memanfaatkan hukum, jelas tidak diperbolehkan, sebagaimana dikisahkan dari Al Kattani, ia berkata, “Aku bermimpi melihat Nabi, dan di dalam mimpi itu aku berkata, ‘Doakanlah aku kepada Allah agar tidak mematikan hatiku. Beliau menjawab, ‘Katakanlah setiap hari sebanyak empat puluh kali kalimat, “Ya hayyu ya qayyum laailaaha ilia anta.” Ini perkataan baik dan tidak ada masalah kebenarannya, karena menurut syariat dzikir memang dapat menghidupkan hati. Faidah mimpi adalah memberitahukan kebaikan, dan ini dari sisi kabar gembira. Dengan demikian, masalah yang tersisa hanya pembicaraan tentang empat puluh kali; apabila tidak ada dalam bentuk kelaziman, maka itu benar.
Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Bustami, ia berkata, “Aku ‘melihat’ Tuhanku di dalam mimpi, maka aku berkata, ‘Bagaimana jalan menuju-Mu?’ Allah berfirman, Tinggalkan dirimu dan kemarilah!’”
Perkataan seperti itu ada di dalam syariat, mengerjakan sesuai substansinya adalah benar, karena ia seperti pemberitahuan pada dalil, karena meninggalkan jiwa artinya meninggalkan hawa nafeu secara mutlak dan berdiri pada kaki persembahan. Ada beberapa ayat yang menunjukkan makna ini, antara lain “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).n (Qs. An-Naazi’aat [79]: 40-41)
Seandainya di dalam mimpinya ia melihat orang berkata, “Sesungguhnya si fulan mencuri, maka potonglah tangannya,” atau, “Si fulan orang pandai, maka tanyalah atau kerjakan perintah atau, “Fulan berzina, maka dirikanlah hadd padanyadan sebagainya, maka tidak dibolehkan untuk mengerjakan hal tersebut, sampai ada saksi pada waktu terjaga, dan jika tidak maka ia telah mengerjakannya. tanpa syariat, karena tidak ada wahyu setelah Nabi. Tidak dikatakan, “Mimpi itu bagian dari kenabian,” maka tidak seharusnya hal itu diremehkan, dan orang yang mengabarkan di dalam mimpi bisa jadi Nabi, beliau bersabda,
“Orang yang melihatku dalam tidurnya, berarti ia sungguh telah melihatku, karena syetan tidak dapat menyerupaiku.
Jika demikian, maka pengabarannya dalam mimpi sama seperti pengabaran beliau pada waktu terjaga.
Oleh karena itu, kami mengatakan: Jika mimpi itu bagian dari kenabian, maka itu bukan untuk menyempumakan wahyu kepada kita, tapi hanya bagian dari bagian-bagiannya, dan bagian tidak menempati posisi keseluruhannya dalam segala sisi, tetapi hanya menempati posisinya pada sebagian sisinya, yaitu memberikan sisi kabar gembira dan peringatan, dan itu saja cukup.
Di samping itu, mimpi yang merupakan satu bagian dari bagian kenabian di antara syaratnya adalah kecocokannya untuk orang shalih, dan tercapainya syarat yang perlu ditinjau, sebab hal itu terkadang memenuhi syarat dan terkadang tidak.
Mimpi terbagi menjadi mimpi yang bersumber dari syetan, kepada pembicaraan jiwa, dan terkadang hanya untuk mengacaukan. Lalu, kapan menentukan yang shalih dan kapan harus meninggalkan yang tidak shalih?
Jika mimpi menuntut adanya pembaharuan wahyu dengan hukum setelah Nabi SAW, maka yang demikian itu terlarang secara ijma’. ” (Tarjamah kitab al-I’tisham halaman 308 -310).
3. Kewajiban Bertaqlid kepada imam Mujtahid dan haramnya Ber-ijtihad bagi orang yang bukan Mujtahid (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, page 879- 880)
al i'tisham 879
“Dari hal yang disebutkan tadi, dapat dideskripsikan menjadi dua poin:
1. Hendaknya mengikuti mujtahid, yaitu mereka yang menjadikan syariat sebagai pijakan utama.
2. Hendaknya mengikuti sebagian ulama. Seperti halnya ulama modern yang bertaqlid kepada ulama masa lalu, dengan menukil kitab-kitab mereka dan fikih-fikih madzab mereka. Benar atau tidaknya, dikembalikan pada keabsahan dalil naqli. Dari siapa mereka menukil pendapat dan kesesuaian dengan yang dinukil.
Pembagian kedua ini rentan dengan pertentangan, maka jangan memaksa mereka untuk berijtihad dengan meng-istimbat sebuah hukum, sebab tidak ada kemampuan ke arah sana.
Ijtihad yang dikemukakan mereka tidaklah sah. Jika memaksakan untuk tetap berijtihad, maka poerbuatannya itu salah dan berdosa, walaupun ijtihadnya benar atau tidak sama sekali, karena ia bukan ahlinya. Hal itu dapat mencemarkan posisi mujtahid, sebab ia mengambil keputusan atas perkara yang tidak ia ketahui. Dengan demikian, tidak dibenarkan untuk mengikuti jalan ijtihadnya. Semua sepakat bahwa proses ijtihad tersebut tidak mu’tabar, perbedaannya secara umum dianggap tiada, dan perbedaannya dengan ulama adalah dosa. Jadi, bagaimana mungkin bisa sah —ketetapan— mengikuti yang bukan mujtahid dalam hal ijtihad?
Ingat! Suatu kaum yang keluar dari tuntunan sahabat dan tabi’in —karena bertentangan dengan dalil dan pedoman para ulama— akan benar-benar tersesat. Mereka juga mengikuti hawa nafsu perasaannya, tanpa dilandasi ilmu, maka mereka akan tersesat pula dari kebenaran.” (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, page 879- 880).
4. Aqidah Imam Ahlusunnah : Allah ada tanpa tempat dan arah!
Ketahuilah bahawa Syeikh As-Syatiby ( Abu ishak Ibrahim Bin Musa As-Syatiby wafat 790) yang antara karangannya kitab Al-I’tisom dan Al-Ifaadaat Wa Al-Insyaadaat merupakan seorang ulama yang berpegang dengan akidah islam dalam manhaj Ahli Sunnah Waljamaah mengikut method Al-Asya’iroh dan Al-Maturidiyah. Ini amat jelas seperti yang dinyatakan oleh beliau sendiri dalam kitab Al-I’tisom yang ‘dikambinghitamkan’ oleh Wahhabi dalam penjelasan Bid’ah. Sememangnya perangai Wahhabi sebegini, mereka mempergunakan kenyataan ulama yang mereka sendiri kafirkannya pula. Subhanallah.
Antara kejelasan akidah Syeikh As-Syatiby ini adalah seperti yang dijelaskan dalam kitabnya berjudul Al-Ifadaat Wa Al-Insyadaat pada bilangan 11-Ifadah : Al-Isyarah Lil Baiid Bi Ismi Al-Isyarah Al-Maudhu’ Lil Qorib mukasurat 93-94 nasnya:
إفادة
سألني الشيخ الاستاذ الكبير الشهير أبو سعيد فرج بن قاسم بن لُب التغلبي أدام الله أيامه عن قول ابن مالك في “تسهيل الفوائد” في باب اسم الإشارة :”وقد يغني ذو البعد عن ذي القرب لعظمة المشير أو المشار إليه”، فقال: إن المؤلف مثَّل عظمة المشير في الشرح بقوله تعالى:{وما تلك بيمينك يا موسى} [سورة طه/17] ولم يبين ما وجه ذلك، فما وجهه؟ ففكرت فلم أجد جوابًا. فقال: وجهه أن الإشارة بذي القرب ههنا قد يُتوهم فيها القرب بالمكان، والله تعالى يتقدس عن ذلك، فلما أشار بذي البعد أعطى بمعناه أن المشير مباين للأمكنة، وبعيد عن أن يُوصف بالقرب المكاني، فأتى البعدُ في الإشارة منبهًا على بُعدِ نسبة المكان عن الذات العلي وأنه يبعد أن يحلَّ في مكان أو يدانيه
(Rujuk: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?s=&threadid=13646 )
Saya terjemahkan sebahagian nukilan As-Syatiby dalam perguruannya bersama As-Syeikh Al-Ustaz Al-Kabir Abu Saiid dan As-Syatiby menghukum serta menganggap ianya adalah antara faedah-faedah ilmu yang agong ( إفادة )
1- هاهنا قد يتوهم فيها القرب بالمكان، والله تعالى يتقدس عن ذلك
Terjemahannya: “Disini mungkin tersangka satu sangkaan yang tidak benar(waham) kedekatan Allah dengan bertempat sedangkan Allah ta’aala mahasuci dari sedemikian (bertempat)”.
Saya menyatakan:
Ini merupakan diantara persetujuan As-Syatiby berkaitan akidah yang benar ‘Allah Tidak Dilingkungi Oleh Tempat’ selain beliau beraliran Asya’irah dalam akidah (seperti juga termaktub dalam kitabnya Al-i’tisom yang tidak berpegang zohir ayat mutasyabihaat).
Malangnya pula Wahhabi mengkafirkan atau kekadang itu hanya menghukum sesat sahaja terhadap golongan Al-Asyairoh. maka apakah mereka katakan pada As-Syatiby ini?! kafir??! sesat?!!atau salah akidah??!
2: في الإشارة منبهاً على بعد نسبة المكان عن الذات العلية، وأنه يبعد أن يحل في مكان أو يدانيه
Terjemahannya: “Padanya isyarah menunjukkan tidak menyandarkan tempat bagi Allah zat yang maha agong, dan sesungguhnya mahasuci Allah dari diliputi oleh tempat atau bersentuhan dengan tempat”.
Saya menyatakan: Ini merupakan satu perkara yang dianggap faedah besar disisi Syeikh As-Syatiby sehingga beliau meletakkan dalam Ifadahnya.
Saya nasihatkan kepada Wahhabi, kuncu-kuncu yahudi dan sesiapa sahaja yang mempergunakan penerangan As-Syatiby agar mengambil juga keterangan akidah oleh beliau seperti di atas dan jangan mengkafirkan akidah benar tersebut atau menyesatkannya.
Sesungguhnya Allah Maha suci dari bertempat dan tidak bersifat duduk.
Wallahu ‘alam.
https://salafytobat.wordpress.com
http://abu-syafiq.blogspot.com

https://salafytobat.wordpress.com/category/kitab-al-itisham-imam-syatibi-vs-wahaby-tasawwuf-bukan-bidah/

As-Syathibi: Pakar Bid’ah yang Dianggap Ahli Bid’ah


Imam Syatibi (w. 790 H) Ahli Bid’ah

Disebut Ahli tafsir biasanya karena ilmunya sangat banyak tentang tafsir, disebut ahli hadits karena memang keseharian hidupnya berbakti kepada hadits. Sebagaimana juga al-Imam Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al-Gharnathi, atau yang terkenal dengan nama Imam Syathibi (w. 790 H). Sepertinya beliau pantas disebut ahli bid’ah, dalam artian sebagai ulama’ yang concern dan ahli dalam berbicara tentang bid’ah, dalam kitabnya al-I’tisham.

Kitab al-I’tisham adalah kitab panduan dalam mengupas bid’ah. Terlebih bagi mereka yang menolak pembagian bid’ah menjadi lima hukum. Imam Syathibi tidak sependapat dengan pembagian itu, beliau membantah pembagian bid’ah Imam as-Syafi’i (w. 204 H) dan Imam Izzuddin bin Abdussalam (w. 660 H)[1].

Pujian Ulama’ Terhadap Kitab al-I’tisham

Ulama’ yang saya maksudkan disini adalah para ulama’ yang tidak sependapat dengan adanya pembagian bid’ah Imam as-Syafi’i (w. 204 H). Mereka yang bisa dibilang getol memerangi bid’ah dan para pelakunya.
Syeikh Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf menulis dalam muqaddimah kitabnya; Mukhtashar kitab al-I’tisham[2],

فإنَّ كتاب ((الاعتصام)) للإمام أبي إسحاق الشاطبي يُعَدُّ من أفضل ما أُلِّف في معنى البدعة وحَدِّها وذمِّ البدع وسوء منقلب أهلها، وأنواعها وأحكامها والفرق بينها وبين المصالح المرسلة وغير ذلك من مسائل تتعلق بالبدعة وأهلها..

“Kitab I’tisham karya Imam Abu Ishaq as-Syathibi adalah kitab terbaik yang menjelaskan tentang bid’ah, tercelanya bid’ah, macam-macamnya, hukumnya, perbedaannya dengan mashalih mursalah”.

Dr. Said bin Nashir al-Ghamidi; seorang dosen Aqidah dan Madzhab modern Universitas King Khalid di Abha Arab Saudi memuji kitab al-I’tisham dalam kitabnya; Haqiqat al-Bid’ah wa Ahkamuha[3]:

أما كتاب الاعتصام للشاطبي: فهو العمدة في هذا الباب, والمورد لكل من تكلم في البدعة بعده....

Kitab I’tihsam karya as-Syatibi (w. 790 H) merupakan kitab pegangan dalam bab ini [pent: bid’ah], dan tempat kembali bagi siapa saja yang berbicara mengenai bid’ah…

Syeikh Abu Ishaq al-Huwaini; salah seorang ulama’ salafy Mesir, murid pertama Syeikh Nasiruddin al-Albani (w. 1420 H) berkata:

وأنا أنصح بمطالعة كتاب: الاعتصام للإمام الشاطبي، وهذا الكتاب أولى أن يدرس في المساجد وأن يبسط..

Saya menyarankan mengaji kitab al-I’tisham karya Imam Syatibi (w. 790 H), kitab ini harusnya dikaji di masjid-masjid..[4]

Para asatidz Nusantara Indonesia raya, tak sedikit juga yang menukil kitab al-I’tisham ini, karena kitab al-I’tisham inilah panduan mengenal bid’ah yang dianggap cocok dengan mereka, diantaranya penolakan terhadap pembagian bid’ah.

Bid’ah Menurut Ibnu Taimiyyah (w. 728 H)

Jika bid’ah menurut as-Syatibi[5] adalah:

طريقة في الدين مخترعة، تضاهي الشرعية، يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

Sebuah jalan/ metode yang dibuat-buat ysng disandarkan kepada agama, sehingga menyerupai syariah, yang dikerjakan dengan maksud untuk menjadikannya tata-agama.

Maka pengertian bid’ah menurut Ibnu Taymiyyah (w. 728 H) adalah:

والبدعة: ما خالفت الكتاب والسنة أو إجماع سلف الأمة من الاعتقادات والعبادات

Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi al-Quran, as-Sunnah dan Ijma para Salaf; baik dalam i’tiqad maupun ibadah[6].

Ibnu Taymiyyah (w. 728 H) menegaskan bahwa bid’ah masuk dalam i’tiqad/aqidah dan ibadat.

Bagaimana dengan Aqidah as-Syathibi?

Pada awalnya saya menyangka Imam as-Syatibi (w. 790 H), secara aqidah memang seperti para masyayikh yang saya sebutkan diatas. Ternyata anggapan saya keliru.

Setelah akhirnya saya mengetahui kitab berjudul cukup spektakuler cetar membahana: “al-I’lam bi Mukhalafat al-Muwafaqat wa al-I’tisham” pemberitahuan tentang penyelewangan kitab al-Muwafaqat dan al-I’tisham. Kitab ini ditulis oleh Syeikh Nasir bin Hamd al-Fahd, seorang ulama’ kelahiran Riyadh tahun 1388 H, lulusan Universitas al-Imam dan termasuk murid dari Syeikh Abdul Aziz ar-Rajihi dan Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh.

Diawal memang Syeikh Nasir bin Hamd memuji kitab as-Syatibi, baik al-Muwafaqat atau al-I’tisham. As-Syathibi dianggap orang pertama yang menjelaskan Maqashid Syari’ah dalam kitab al-Muwafaqat, dan orang pertama yang menformulasikan kaidah bid’ah dalam kitabnya al-I’tisham[7].

Tapi, akhirnya beliau tau bahwa:

والحقيقة التي تظهر لكل من يقرأ كتابيه هذين أنه أشعري المعتقد في باب الصفات والقدر والإيمان وغيرها، ومرجعه في أبواب الاعتقاد هي كتب الأشاعرة

Ternyata setelah membaca dua kitab as-Syathibi [al-Muwafaqat dan al-I’tisham], dapat disumpulkan bahwa beliau beri’tiqad Asy’ari dalam bab asma’ dan sifat, bab qadar, iman dan lain sebagainya. Kebanyakan rujukannya dalam bab aqidah adalah kitab-kitab Asyairah[8].

Masih di halaman yang sama, Syeikh Nasir bin Hamd melanjutkan:

ولكنه مع ذلك وقع في بدع الأشاعرة والمتكلمين الاعتقادية في الصفات والقدر وغيرها

Sikap as-Syathibi dalam bid’ah amaliyyah memang bagus. Tapi, sayangnya beliau terjatuh dalam BID’AH Asya’irah; dalam asma’ sifat, qadar dan lainnya. Nah loo!

Bid’ah Sebagaimana Pengertian Ibnu Taymiyyah (w. 728 H)

Jika kita memakai pengertian Ibnu Taimiyyah, bahwa bid’ah masuk dalam ranah ibadah dan i’tiqad maka sepertinya Imam as-Syathibi (w. 790 H) tergolong ahli bid’ah menurut versi ‘mereka’.

Benar saja, Syeikh Nasir bin Hamd menuliskan tentang alasan menulis kitabnya:

قمت بتقييد مخالفاته لمعتقد أهل السنة والجماعة ورأيت أن أخرجها نصيحة للأمة،وإتماماً للمنفعة

Saya ingin menunjukkan penyimpangannya [as-Syathibi: pent] terhadap AQIDAH AHLU AS-SUNNAH WA AL-JAMA’AH sebagai nasehat kepada ummat[9].

Jadi memang, Aqidah Imam as-Syathibi (w. 790 H) dianggap menyimpang dari Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah dan termasuk pelaku bi’dah juga. Bahkan bid’ahnya tak hanya dalam ibadah, tapi dalam ranah Aqidah.

Pakar Bid’ah yang dianggap Ahli Bid’ah

Imam Syathibi dianggap menyimpang dari Aqidah Ahlu as-Sunnah dalam beberapa hal, sebagaimana ditulis oleh Syeikh Nasir bin Hamd;

Pertama, penyelewengan dalam Tauhid, baik dalam tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.
Kedua, penyelewengan dalam bab Iman dan Qadar
Ketiga, penyelewengan yang lain; meliputi terpengaruh pemikiran Ahli kalam dan tasawwuf.

Tak usah saya jelaskan panjang lebar tentang penyelewengan itu, toh isinya ya itu-itu saja. Intinya Imam as-Syatibi (w. 790 H) menyelisihi Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah dan termasuk Ahli Bid’ah dalam Aqidah, menurut ‘mereka’.

Selain Imam as-Syathibi (w. 790 H) yang dianggap melenceng dalam Aqidah dan telah berbuat bid’ah I’tiqadiy, ternyata ada beberapa ulama’ pakar bid’ah lain yang dianggap telah berbuat bid’ah juga; gara-gara beraqidah Asy’ari.

Dialah Abu Syamah Abu al-Qasim Syihabuddin Abdurrahman bin Isma’il bin Ibrahim al-Maqdisi (w. 665 H), beliau mengarang kitab dengan judul: al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits. Juga at-Thurtusi Muhammad bin Walid bin Muhammad bin Khalaf al-Andalusi al-Maliky (w. 520 H), beliau menulis kitab al-Hawadits wa al-Bida’. Kedua ulama’ itu dianggap menyimpang juga oleh Syeikh Nasir bin Hamd, karena beraqidah Asy’ari[10].

As-Syathibi (w. 790 H) termasuk ulama’ yang keras dalam membicarakan hukuman pelaku bid’ah. Nah, gimana ceritanya kalo Imam Syathibi sendiri malah dianggap bid’ah. Tak taulah! WaAllahu a’lam. []

Oleh: Luthfi Abdu Robbihi

Footnote:

[1] As-Syathibi Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi (w. 790 H), al-I’tisham, (Riyadh: Dar Ibn Affan, 1412 H), h. 241-270

[2] Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Mukhtashar Kitab al-I’tisham, (Dar al-Hijrah, 1418 H), h.6. Beliau adalah pemilik situs www.dorar.net.

[3] Said bin Nashir al-Ghamidi, Haqiqat al-Bid’ah wa Ahkamuha, (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, t.t), juz 1, h. 215. Kitab ini ditulis dalam rangka tugas tesis di Jami’ah al-Imam Muhammad bin Saud Riyadh, Jurusan Syariah dan Ushuluddin konsentrasi Aqidah dan Madzhab, lulus tahun 1410 H

[4] Durus dari Syeikh Abu Ishaq al-Huwaini dengan judul: al-Bid’ah wa Atsaruha fi Mihnati al-Muslim, dipublikasikan di situs: www. Islamweb.net

[5] As-Syathibi Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi (w. 790 H), al-I’tisham, h. 51

[6] Ibnu Taimiyyah Taqiyuddin Abu al-Abbas (w. 728 H), Majmu’ Fatawa, (Riyadh: Majma’ al-Malik Fahd, 1416 H), juz 18, h. 346

[7] Nasir bin Hamd al-Fahd, al-I’lam bi Mukhlafat al-Muwafaqat wa al-I’tisham, (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 1420 H), h. 5

[8] Nasir bin Hamd al-Fahd, al-I’lam bi Mukhlafat al-Muwafaqat wa al-I’tisham, h. 5

[9] Nasir bin Hamd al-Fahd, al-I’lam bi Mukhlafat al-Muwafaqat wa al-I’tisham, h. 7

[10] Nasir bin Hamd al-Fahd, al-I’lam bi Mukhlafat al-Muwafaqat wa al-I’tisham, h. 6

Untuk downlad kitab al-I'lam bi Mukhalafat al-Muwafaqat wa al-I'tisham, klik: [http://www.waqfeya.com/book.php?bid=1842]

Wednesday, March 16, 2016

  Pengertian Bid’ah Menurut Ahlisunnah Wal Jama’ah


 Salah satu senjata utama kaum wahaby (khawarij zaman ini) adalah kata bid’ah. Dalam setiap pemahasan mereka tidak terlepas dari kata-kata bid’ah. Dengan jurus bid’ah pula mereka menyesatkan para ulama-ulama besar dan mayoritas kaum mulimin.
Dalam menafsirkan makna bid’ah mereka menolak penafsiran para ulama-ulama besar dan hanya menerima penafsiran yang di lakukan oleh tokoh-tokoh mereka (seperti al-bani, utsaimin, salih fauzan dan lain- lain).
Karena itu, maka kami pihak LBM MUDI Mesjid Raya, merasa perlu membuat satu tulisan tentang pemahaman makna bid’ah berdasarkan pemahaman ulama Ahlus sunnah wal jamaah. Terlebih lagi banyak kalangan yang meminta kami untuk membahas masalah bid’ah.
PENGERTIAN BID’AH SECARA ETIMOLOGI (BAHASA)
Secara etimologi, bid’ah mempunyai 2 makna. Pertama, memulai dan mengerjakan hal yang baru tanpa ada didasari contoh.
Makna ini berasal dari perkataan :
أبْدعْتُ الشيءَ قولاً أو فِعلاً، إذا ابتدأتَه لا عن سابق مثال
(Aku memulai sesuatu perkataan atau perbuatan, apabila aku memulainya maka tidak ada keserupaan sebelumnya).
Sebagai contoh dari makna yang pertama adalah firman Allah SWT :
والله بديعُ السّمواتِ والأرض
“Allah SWT merupakan pencipta langit dan bumi”. (Q.S. Al-Baqarah : 117)
Pada ayat yang lain :
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعاً مِنَ الرُّسُلِ
“Katakanlah (hai Muhammad SAW): “Aku bukanlah yang pertama di antara Rasul-Rasul”. (Q.S. Al-Ahqaf : 9)
Selanjutnya, Syaikh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani rahimahullah mengutarakan bahwa bid’ah secara bahasa adalah :
ما كا ن مخترعا على غير مثال سابق
(Perkara baru tanpa didasari contoh sebelumnya).
Syaikh Muhammad bin Ya’qub Al-Fairus Al-Abadi mengungkapkan bahwa bid’ah adalah :
الامرالذى يكون اولا
(Suatu urusan yang pertama adanya).
Syaikh Muhammad bin Abubakar Ar-Razi mendefinisikan abda’a (bid’ah) sebagai berikut :
اخترعه لا على مثال
(Mengadakan sesuatu tanpa contoh).
Kalau kita menela’ah rataan makna bid’ah dalam kamus-kamus Bahasa ‘Arab, kita dapati bahwa kebanyakan para ahli lughah mendefinisikan bid’ah sebagai suatu perkara baru yang diciptakan tanpa didasari contoh terlebih dahulu. Sedangkan pencipta hal baru tersebut dinamai dengan mubdi’ ataupun mubtadi’.
PENGERTIAN BID’AH SECARA ETIMOLOGI (ISTHILAH)
Sedangkan secara terminologi Syari’at, dalam kalangan ‘Ulama Ahlus sunnah Wal Jama’ah ada dua cara pandang yang sedikit berbeda, namun kesimpulannya tetap sama.
Pertama para ulama yang menafsirkan makna bid’ah dengan definisi :
ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يدل عليه وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا وإن كان بدعة لغة
“bid’ah adalah suatu pembaruan yang tidak mempunyai dalil sama sekali dalam Syari’at yang membenarkannya. Sedangkan pembaruan yang mempunyai dalil Syari’at yang membenarkannya maka bukan termasuk bid’ah menurut Syara’ walaupun dapat disebut bid’ah secara bahasa”.
Pengertian tersebut diutarakan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali rahimahullah.
Berdasarkan defenisi ini maka semua bid’ah syar`i adalah sesat, karena maksud dengan bid’ah adalah semua yang tidak memiliki landasannya dalam agama. Maka bid’ah syar`i tidak di bagi lagi tetapi di hukumkan semua bid’ah adalah sesat karena bid’ah adalah lawan dari sunnah.
Adapun kalam para ulama yang jelas-jelas membagi bid’ah maka di maksudkan kepada bid’ah lughawi bukan bid’ah syar`i. Amalam-amalan yang di katakan oleh para ulama sebagai amalan bid’ah hasanah seperti perayaan maulid Nabi sebenarnya bukanlah bid’ah secara istilah syara` karena amalan tersebut memiliki landasannya dalam agama, tetapi ia hanya di katakan sebagai bid’ah pada lughah. Diantara para ulama yang dengan tegas menyatakan demikian antara lain al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
Maka berdasarkan defenisi ini, hadits Nabi كل بدعة ضلالة (Setiap bid’ah adalah sesat) masih dapat di maknai secara umum, yaitu semua yang di namakan bid’ah secara istilah syara` adalah sesat.
Kedua :para ulama yang mendefeniskan bid’ah ;
فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم
“bid’ah adalah setiap perkara yang tidak dikenal pada zaman Rasululullah SAW”.
Definisi ini diungkapkan oleh Syaikh ‘Izzuddin ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdus-Salamrahimahullah.
Beranjak dari sudut pandang yang kedua ini, maka lafadz “bid’ah” dalam istilah syar`i dapat dipahami sebagai hal-hal apa saja yang belum ada ataupun tidak dikenal pada masa Rasulullah saw baik hal tersebut bisa saja dikategorikan sebagai hal baik, seperti mengumpulkan seluruh Alqur-an dalam satu mushaf, membukukan Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW, mendirikan madrasah dan seterusnya ataupun dapat pula dikategorikan sebagai hal yang jelek, misalnya berkeyakinan sebagaimana keyakinannya sekte Al-Jabbariyah, Al-Qadariyah, Al-Murji’ah, mencampuradukkan pelajaran keagamaan dengan falsafah kafir, meninjau masuknya bulan puasa bukan dengan sistem rukyah, melaksanakan shalat Jum’at di rumah seorang diri dan lain sebagainya. Bahkan perkara baru tersebut mencakup juga urusan keduniawian, seperti mengendarai sepeda motor, mobil, menggunakan internetan dan seterusnya.
Pandangan ini dilandasi perkataan shahabat Saidina Umar yang di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah :
قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Ini adalah bid’ah yang paling baik”.
Juga di landasi oleh hadits Rasulullah yang di riwayatkan oleh Imam Muslim :
من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شىء ومن سن فى الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شىء
Artinya : Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatan tersebut juga pahala dari orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka, dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah (perbuatan) yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya dan juga dosa dari perbuatan orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka. (H. R. Imam Muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Barang siapa mencipatakan dalam urusan kami (agama) sesuatu yang bukan darinya maka ia tertolak (H.R. Imam Muslim)
Syeikh Abdu Rabbih al-Qalyuby mengatakan :
مفهومه من يحدث فى الدين ما هو منه فليس يردّ والمردود انما هو الذى لا أصل له فى الدين
Artinya: Mafhum hadits ini, seorang yang mengadakan sesuatu dalam agama perkara yang masih masih memiliki landasan dalam agama maka ia tidaklah tertolak, yang tertolak hanyalah perkara yang tidak ada dasarnya dalam agama.
Maka berdasarkan landasan ini, para ulama membagi bid’ah syar`i kepada dua; hasanah dan mazmumah dan berlaku baginya hukum yang lima (wajib, sunat, haram, makruh, dan mubah).
Atas dasar pemahaman ini, Imam Nawawi berkomentar terhadap hadits kullu bid’ah dhalalah:
قوله صلى الله عليه وسلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع
Kata Nabi “setiap bid’ah adalah sesat” ini adalah `am makhkhsu, yang di maksudkan adalah kebanyakan bid’ah.
Bila kita sedikit menelisik redaksi matan dari “Kullu bid’ah dhalalah”, maka kita mengetahui bahwa pada riwayat tersebut terdapat lafadz yang bermakna universal, yaitu lafadz “kullu”. Namun, tidak semua lafadz “kullu” bermakna universal. Tidak sedikit pula yang bermakna “ba’dhun”(sebagian). Dengan kata lain, ada lafadz “kullu” yang bermakna jami’ dan ada juga yang bermakna majmu’. Hal ini tidak jarang dijumpai dalam lafadz-lafadz yang mengandung nilai balaghah yang tinggi baik dalam Alqur-an maupun Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW. Diantaranya :
1. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahqaf ayat 25 :
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
“Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali bekas tempat tinggal mereka. Demikianlah kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.
Dalam ayat tersebut, lafadz yang digunakan adalah lafadz “kullu”, namun tidak bermakna universal. Akan tetapi, makna lafadz “kullu” tersebut bermakna “ba’dhun”. Artinya, tidak semuanya dihancurkan pada masa itu, namun yang dihancurkan hanyalah kaum yang tidak beriman kepada Allah SWT.
2. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Anbiya ayat 30
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Dalam ayat ini, lafadz “kullu” juga tidak digunakan dalam bentuk bermakna keseluruhan karena Allah SWT juga ada menciptakan makhluk hidup dari api, yaitu bangsa jin. Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 15 :
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Dan Dia menciptakan jin dari api yang menyala”.
3. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 79 :
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera”.
Dalam ayat yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa ‘as dengan Nabi Khidir ‘as ini juga menunjuki bahwa lafadz “kullu” tersebut bermakna “ba’dhun” (sebagian). Hanya bahtera yang bagus sajalah yang dirampas oleh raja, sementara bahtera yang jelek tidak dirampas.
4. Surat Al-An`aam ayat 120:
خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Dia yang menciptakan tiap-tiap sesuatu”.
Kata-kata “kullu syai-i” (tiap-tiap sesuatu) dalam ayat tersebut tidak dimaksudkan secara umum menyeluruh, karena Allah SWT tidak menciptakan dzat-Nya sendiri.
5. Surat An-Naml ayat 23 :
وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
“Dan dia (Ratu Balqis) dianugerahi tiap-tiap sesuatu”.
“Kullu” (tiap-tiap) dalam ayat tersebut tidak bermaksud umum, karena bila dimaksudkan umum maka akan timbul pemahaman bahwa Ratu Balqis dianugerahi tiap-tiap sesuatu termasuk juga kekayaan yang ada pada tangan Nabi Sulaiman ‘as, karena bila dikatakan tiap-tiap sesuatu dengan umum akan terbenar juga kepada kekayaan yang ada pada Nabi Sulaiman ‘as.
Dari beberapa ayat Alqur-an tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian kalimat “kullu” kepada “sebagian” bukanlah suatu hal yang asing. Sehingga bukanlah satuhal yang janggal ketika Imam Nawawi mengatakan bahwa maksud hadits kulla bid’ah dhalalah adalah kebanyakan bid’ah bukan semua bid’ah.
Pembagian bid’ah
Banyak kalam para ulama terkemuka yang dengan tegas membagi bid’ah kepada baik dan tercela, antara lain :
1. Imam Syafii:
Imam Syafii membagi bid’ah kepada dua, sebagaimana yang di riwakatkan oleh Imam Baihaqy:
Pertama :
ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا ، فهذه لبدعة الضلالة
“Pembaruan dari hal-hal yang bertentangan dengan Kitab, Sunnah, Atsar atau Ijma’, maka pembaruan ini adalah pembaruan yang menyesatkan”.
Kedua :
ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا ، فهذه محدثة غير مذمومة
“Pembaruan berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu tersebut, maka pembaruan ini adalah pembaruan yang tidak tercela”.
2. Sulthan Ulama Izzuddin bin Abdis Salam (w. 660 H):
البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهي منقسمة إلى بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة، وبدعة مباحة، والطريق في معرفة ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة: فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، وإن دخلت في قواعد التحريم فهي محرمة، وإن دخلت في قواعد المندوب فهي مندوبة، وإن دخلت في قواعد المكروه فهي مكروهة، وإن دخلت في قواعد المباح فهي مباحة
bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Bid`ah terbagi kepada bid`ah wajib, bid`ah haram, bid`ah sunat, bid’ah mubah. Jalan mengetahui demikian adalah dengan menimbang bid’ah tersebut dengan qaedah Syara`. Maka bila masuk dalam qaedah wajib maka ia wajib, jika masuk dalam qaedah haram maka ia haram, jika masuk dalam qaedah sunat maka ia sunat, jika masuk dalam qaedah makruh maka makruh dan jika masuk dalam qaedah mubah maka ia mubah.
3. Ibnu Atsir (w. 606 H) :
البدعة بِدْعَتَان : بدعة هُدًى وبدعة ضلال فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيِّزالذّم والإنكار وماكان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَص عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح
bid’ah ada dua; bid’ah huda dan bid’ah dhalal (sesat). Maka perkara yang menyalahi perintah Allah dan RasulNya berada pada pihak yang di cela dan di ingkari. Sedangkan perkara yang berada di bawah keumuman yang di sunatkan oleh Allah dan di khususkan oleh Allah dan RasulNya maka ia masuk dalam pihak yang terpuji.
4. Imam Nawawi (w. 676 H)
Imam Nawawi, ulama besar dalam Mazhab Syafii yang mencapai derajat mujtahidtarjih, dalam kitab Tahzib al-Asma` wa al-Lughah :
البِدعة بكسر الباء في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ،وهي منقسمة إلى: حسنة و قبيحة
bid’ah pada syara` adalah menciptakan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. bid’ah terbagi kepada hasanah dan qabihah.
5. Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) :
وأما قول عمر نعمت البدعة في لسان العرب اختراع ما لم يكن وابتداؤه فما كان من ذلك في الدين خلافا للسنة التي مضى عليها العمل فتلك بدعة لاخير فيها و واجب ذمها والنهي عنها والأمر باجتنابها وهجران مبتدعها إذا تبين له سوء مذهب هو ما كان من بدعة لا تخالف أصلا لشريعة والسنة فتلك نعمت البدعة
Artinya :Adapun ucapan Saidina Umar, sebaik baik bid’ah, maka bid’ah dalam bahas Arab adalah mencipatakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bid’ah tersebut menyalahi sunnah yang sudah berlaku maka ia adalah bid’ah yang tidak ada kebaikan padanya dan wajib di cela dan di larang dan di perintahkan untuk di jauhi dan meninggalkan pelakunya bila telah nyata baginya keburukan alirannya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah maka itu adalah sebaik-baik bid’ah.
6. Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H)
Beliau berkata dalam kitab Fathul Bari :
والتحقيق أنها أن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي منقسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة
Artinya :dan yang pasti bid’ah itu jika masuk di bawah yang di anggap baik dalam syara` maka ia adalah hasanah dan jika masuk di bawah yang di anggap buruk dalam syara maka ia adalah buruk dan jika tidak (tidak masuk dalam keduanya) maka ia bagian dari hal mubah dan bid’ah itu terbagi kepada hukum yang lima.
Sebagaimana telah kami terangkan sebelumnya, bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa bid’ah secara istilah syara` hanyalah perkara-perkara yang tidak memiliki landasannya dalam syara` sedangkan perkara baru yang memiliki landasan dalam syara` tidak di katakan bid’ah pada uruf syara` tetapi hanya di katakan bid’ah secara lughawi. Maka berdasarkan pemahaman ini, kata bid’ah hasanah yang dalam dalam kalam para pembesar ulama ketika membagi bid’ah pada hakikatnya adalah bukan bid’ah secara istilah syar`i.
Hal ini dapat di lihat langsung dari pendapat penjelasan beberapa ulama yang menyetujui bahwa semua bid’ah dalam istilah syara` adalah sesat antara lain:
1. Imam al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani.
والمحدثات بفتح الدال جمع محدثة والمرادبها ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة فالبدعة فيعرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أومذموما
dan yang di maksud dengan muhdats adalah perkara baru yang tidak ada dasarnya dalam syara` dan di namakan pada uruf syara` dengan bid’ah. sedangkan perkara yang memiliki landasan dalam syara` maka ia bukan bid’ah. maka bid’ah dalam istilah syara`adalah tercela berbeda dengan bid’ah pada lughat karena setiap perkara baru yang di lakukan tanpa contohnya di namakan bid’ah baik perkara itu terpuji atau tercela.
Dari kalam Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut sangat jelas beliau menyatakan bahwa bid’ah dalam istilah syara` adalah sesat. Sedangkan al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri merupakan salah satu ulama yang dengan tegas menyatakan bahwa perayaan maulid adalah bid’ah hasanah.
2. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H)
Dalam fatawa Haditsiyah beliau menyatakan :
وقول عمر رضي الله عنه في التراويح نعمت البدعة هي أراد البدعة اللغوية وهوما فعل على غير مثال كما قال تعالى) قل ما كنت بدعا من الرسل وليست بدعة شرعا فإن البدعة الشرعية ضلالة كما قالوا من قسمها من العلماء إلى حسن وغير حسن فإنما قسم البدعة اللغوية ومن قال كل بدعة ضلالة فمعناه البدعة الشرعية
Dan perkataan Saidina Umar tentang taraweh; sebaik-baik bid’ah adalah ini, maksudnya adalah bid’ah lughawi yaitu setiap perbuatan yang bukan atas contoh terdahulu sebagaimana dalam firman Allah: katakanlah tidak adalah aku yang pertama dari para Rasul (QS. Al-Ahqaf 9). Dan hal itu bukanlah bid’ah pada istilah syara` karena bid’ah syar`iyah adalah sesat sebagaimana kata Nabi. Para ulama yang membagi bid’ah kepada baik dantidak baik maka itu adalah pembagian bid’ah lughawiyah sedangkan para ulama yang menyatakan bahwa semua bid’ah sesat maka maksudnya adalah bid’ah syar`iyah.
Dalam kitab Fathul Mubin, Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :
والحاصل ان البدعة الحسنة متفق على ندبها وهى ما وافق شيئا مما مر ولم يلزم من فعله محذور شرعي …
Artinya :kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah di sepakati kesunnahannya yaitu perkara yang sesuai dengan yang telah lalu (kami sebutkan) dan mengerjakannya tidak melazimi kepada yang di larang dalam syara`.
Selanjutnya Imam Ibnu Hajar mengutip pernyataan guru Imam Nawawi, Abu Syamah tentang maulid sebagai contoh dari bid’ah hasanah.
3. Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`i al-Hanafi (w. 1935 M).
Dalam kitab Ahsanul Kalam fima yata`allaqu bi sunnah wa al bid’ah min al-Ahkam beliau menyatakan :
أن البدعة شرعا هى التى حدث فعلها بعد زمنه صلى الله عليه وسلم ودخلت تحت نهي عام اقتضى التحريم او الكراهة وهى المذمومة شرعا والمحرمة هى التى تكون ضلالة ومذمومة عند الشارع وان البدعة التى قسمها العلماء إلى الأقسام المذكورة هى البدعة اللغوية وهى اعم من البدعة الشرعية لأن الشرعية قسم منها وليس كل ما لم يفعل فى زمنه صلى الله علييه وسلم بدعة مذمومة وضلالة خلافا لمن زعم ذلك
Artinya :bid’ah pada syara` adalah perkara yang di ciptakan pada masa setelah Rasulullah SAW dan masuk dalam larangan yang umum yang menghendakinya hukum haram atau makruh. bid’ah makruh tersebut tercela pada syara`. Sedangkan bid’ah yang harama adalah sesuatu yang sesat dan tercela dalam syara`. Dan bid’ah yang di bagi para ulama kepada beberapa pembagian tersbut adalah bid’ah lughawiyah, bid’ah lughawiyah lebih umum karena bid’ah syar`iyah adalah satu bagian darinya. Dan tidaklah setiap sesuatu yang tidak di kerjakan pada masa Rasulullah SAW termasuk bid’ah tercela dan sesat, sebalik dengan orang-orang yang mendakwa demikian.
Selanjutnya Syeikh Bakhit al-Muthi`i memasukkan azan pertama sebelum pelaksanaan shalat jumat kedalam bid’ah hasanah . Selain itu syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`i juga membolehkan perayaan maulid Nabi sebagaimana fatwa al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-Hafidh Suyuthi.
Maka dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa dari dua metode pemahaman para ulama tersebut tidaklah kontradiksi bahkan menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu setiap perkara yang baru yang menyalahi aturan syara` merupakan perbuatan bid’ah yang sesat dan tidak semua perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasul di hukumi bid’ah yang sesat tetapi bila perbuatan tersebut memiliki landasan dalam agama maka ia termasuk dalam bagian dari agama di mana sebagian ulama menyebutkan dengan kata bid’ah hasanah.
Beranjak dari kedua sudut pandang para ‘Ulama Ahlus sunnah dalam menyikapi dan memahami ungkapan Nabi saw “kullu bid’ah dhalalah”, maka pada haqiqatnya mereka sepakat bahwasanya bid’ah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad saw bid’ah yang tidak memiliki legalitas dalil Syar’i sekaligus diberi ganjaran dosa bagi para pelakunya. Hanya saja, yang melatarbelakangi perbedaannya adalah pendekatan pemahaman para ‘Ulama itu sendiri dalam menyimpulkan maksud dari ungkapan Nabi Muhammad saw tersebut. Sebagian menganalisanya secara global dan sebagian yang lain mengemukakannya secara terperinci.
Oleh sebab itu, setiap hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw maupun generasi Salafus-Shalih tidak bisa langsung dihukumi sebagai perkara bid’ah yang dhalalah. Akan tetapi harus dicermati terlebih dahulu apakah perkara tersebut mempunyai landasan Syari’at nya atau tidak. Bila dilandasi oleh dalil-dalil Syari’at yang membolehkannya ataupun tidak melarangnya, maka hal tersebut tidak pantas divonis bid’ah dalam Syara’ walaupun terbenar kepada bid’ah secara lughawi (bahasa). Dengan kata lain, bid’ah tersebut adakalanya dihukumi sebagai bid’ah hasanah (baik) dimana tetap akan diberi pahala bagi para pelakunya dan ada pula yang divonis sebagai bid’ah mazhmumah (tercela) yang diancam sesat dan masuk neraka bagi para pelakunya. Para pelaku bid’ah mazhmumah inilah yang disebut sebagai ahlul-bid’ah dalam Syari’at.
Semoga Allah memelihara kita dari perbuatan-perbuatan bid’ah dhalalah dan juga dari memvonis sesuatu dengan kata “BID’AH”. Amiin Ya Rabbal Alamin.
———————————————————————
Al-Majalis As-Saniyyah”, Syaikh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani, Bab “Al-Majlis Ats-Tsamin Wa Al-‘Isyrun Fi Al-Hadits Ats-Samin Wa Al-‘Isyrun”, Hal. 87, Cet. Toha Putra.
“Al-Muhith”, Syaikh Muhammad bin Ya’qub Al-Fairus Al-Abadi, Juz. III, Hal. 3.
“Mukhtar Ash-Shihah”, Syaikh Muhammad bin Abubakar Ar-Razi, Hal. 379.
Syeikh Ali Jum`ah, al-Bayan lima Yasyghul al-Azhan, Juz I. Hal 142
“Jaami’ Al-‘Uluum Wa Al-Hikam”, Syaikh ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali, Juz. I, Hal. 226, Cet. Dar Al-Ma’rifah, 1408 H.
Fathul Bari, al-Hajar al-Asqalani, Juz XXIII, Hal. 253. Cet. Dar Ma`rifah th 1379 H
Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Haditsiyah, Hal. 370 Cet. Dar Ihya Turast Arabi, th1998
“Qawaa’id Al-Ahkaam Fii Mashaalih Al-Anaam”, Syaikh ‘Izzuddin ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdus-Salam, “Fashl Fi Al-Bid’i”, Juz. II, Hal. 133, Cet. Dar Al-Kutub, 2010 M.
“Shahih Al-Bukhari”, Imam Muhammad bin Isma’il Bin Ibrahim Bin Al-Mughirah Al-Bukhari, Bab “Man Qama Ramadhan”, Juz. III, Hal. 45, Cet. Dar Thauq An-Najah, 1422 H.
Syeikh Abd Rabbih al-Qalyubi, Faidh al-Wahhab Juz IV, Hal. 113, Dar Qayumiyah Arabiyah th 1963
Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Hal 324 th 1994 Dar Hadits
“Al-Madkhal Ilaa As-Sunan Al-Kubra”, Imam Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali bin Musa Al-Baihaqi, Juz. I, Hal. 191.
Qawaa’id Al-Ahkaam Fii Mashaalih Al-Anaam”, Syaikh ‘Izzuddin ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdus-Salam, “Fashl Fi Al-Bid’i”, Juz. II, Hal. 133, Cet. Dar Al-Kutub, 2010 M.
Ibnu Atsir, Nihayah Fi Gharib Hadits, Juz I, Hal. 101. Beirut, Maktabah Ilmiyah th 1979
Imam Nawawi, Tahzib al-Asma` wa al-Lughah, Juz II, Hal. 276 . Dar Kutub Ilmiyah, th 2007
Ibnu Abdil Bar, al-Istidzkar, Juz II, Hal. 267, Beirut, Dar Kutub Ilmiyah th 2000
Ibnu Hajar al-Asqalabi, Fathul Bari, Juz IV. Hal 294, Kairo, Dar hadits th 2004
Fathul Bari, al-Hajar al-Asqalani, Juz XXIII, Hal. 253. Cet. Dar Ma`rifah th 1379 H
Imam As-Suyuthi, Al-Hawi Li Al-Fatawi, Bab Husn Al-Maqshud Fi ‘Amal Maulid, Hal. 229, Juz. I, Cet. Dar Al-Fikri, 2004.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Haditsiyah, Hal. 370 Cet. Dar Ihya Turast Arabi, th1998
Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Mubin bi Syarh Arba`in, Hal. 263, Dar Kutub Ilmiyah th 2007
Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Mubin bi Syarh Arba`in, Hal. 263 Cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2007
Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`i, Ahsanul Kalam fima yata`alaqu bi al-sunnah wa al-bid’ah min al-Ahkam, Hal. 16, Kairo, Mathba`ah Kurdistan Ilmiyah th 1329
Ahsanul Kalam fima yata`alaqu bi al-sunnah wa al-bid’ah min al-Ahkam, Hal. 59
Ahsanul Kalam, Hal. 71
Di tulis oleh lbm MUDI mesra (Lajnah Bahtsul Masail Mahadal Ulum Diniyah Islamiah)
Pada tanggal 11.3.14 Dalam kategori Ahlus sunnah Wal Jamaah dengan judul Pengertian Bid’ah Menurut Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah


http://www.santridayah.com/2014/03/pengertian-bidah-menurut-ahlisunnah-wal-jamaah