Sunday, April 24, 2016

ASWAJA (AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH) ADALAH GOLONGAN RASULULLAH


Penulis dan Analisis Sejarah oleh Von Edison Alouisci

Awal Munculnya Aswaja.

Aswaja (ahlussunnah wal jama`ah sesungguhnya identik dengan pernyataan nabi "Ma Ana 'Alaihi wa Ashabi" seperti yang dijelaskan sendiri oleh Rasululloh SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud bahwa :"Bani Israil terpecah belah menjadi 72 Golongan dan ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk nereka kecuali satu golongan". Kemudian para sahabat bertanya ; "Siapakah mereka itu wahai rasululloh?", lalu Rosululloh menjawab : "Mereka itu adalah Maa Ana 'Alaihi wa Ashabi" yakni mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga dilakukan oleh para sahabatku.

artinya..perbuatan dan tindak tanduk Rasulullah dan sahabat..maka ia di sebut golongan Aswadul adzom.

Di wilayah sejarah, proses pembentukan Aswaja terentang hingga zaman al-khulafa’ ar-rasyidun, yakni dimulai sejak terjadi Perang Shiffin yang melibatkan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA dengan Muawiyah. Bersama kekalahan Khalifah ke-empat tersebut, setelah dikelabui melalui taktik arbitrase (tahkim) oleh kubu Muawiyah, ummat Islam makin terpecah kedalam berbagai golongan seperti dijelaskan diatas .
Di antara kelompok-kelompok itu, adalah sebuah komunitas yang dipelopori oleh Imam Abu Sa’id Hasan ibn Hasan Yasar al-Bashri (21-110 H/639-728 M), lebih dikenal dengan nama Imam Hasan al-Bashri, yang cenderung mengembangkan aktivitas keagamaan yang bersifat kultural (tsaqafiyah), ilmiah dan berusaha mencari jalan kebenaran secara jernih. Komunitas ini menghindari pertikaian politik antara berbagai faksi politik (firqah) yang berkembang ketika itu. Sebaliknya mereka mengembangkan sistem keberagamaan dan pemikiran yang sejuk, moderat dan tidak ekstrim. Dengan sistem keberagamaan semacam itu, mereka tidak mudah untuk mengkafirkan golongan atau kelompok lain yang terlibat dalam pertikaian politik ketika itu.

pengikut Ahlussunnh wal jama`ah sesungguhnya

Seirama waktu, sikap dan pandangan tersebut dalam uraiaj diatas diteruskan ke generasi-generasi Ulama setelah beliau, di antaranya Imam Abu Hanifah Al-Nu’man (w. 150 H), Imam Malik Ibn Anas (w. 179 H), Imam Syafi’i (w. 204 H), Ibn Kullab (w. 204 H), Ahmad Ibn Hanbal (w. 241 H), hingg tiba pada generasi Abu Hasan Al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H).

Kepada dua ulama terakhir inilah permulaan faham Aswaja sering dinisbatkan; meskipun bila ditelusuri secara teliti benih-benihnya telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Perkataan Ahlussunah wal Jama’ah kadang-kadang dipendekkan menyebutnya dengan Ahlussunah saja, atau Sunny saja dan kadang-kadang disebut ‘Asy’ari atau Asya’irah, dikaitkan kepada guru besarnya Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Berkata Sayid Mutadha az Zabidi, pengarang kitab “Ittihaf Sadaatul Muttaqin”, yaitu kitab yang mensyarah kitab “Ihya Ulumuddin”, karangan Imam Ghazali :
Artinya : Apabila disebut “Ahlussunah wal Jama’ah” maka yang dimaksudkan dengan ucapan itu ialah paham atau fatwa-fatwa yang disiarkan oleh Imam Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi (I’tihaf jilid II, halaman 6).

“Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya’irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi” (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.)

“Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari)” (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38).

“Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103)

“Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Hasyiyah Al-’Adwi, Ali Ash-Sha’idi Al-’Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105)

“Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu ‘anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)” (Hasyiyah At-Thahthawi ‘ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4)

DALAM LITETUR SEJARAHNYA..TIDAK ADA SATUPUN PENJELASAN BAHWA AHLUSSUNNAH ITU NISBAH KEPADA MUHMMAD BIN ABDUL WAHAB PENDIRI WAHABI SALAFI ATAU DULU DIKENAL DENGAN NAMA SEKTE MU`AWIDDUN

Nama wahabi tidak dikenal sama sekali dan baru muncul abad ke 17.dan lagi pula nisbahnya ke muhmmad bin abdul wahab.Jika pengiku wahabi salafi mengaku ' AHLUSSUNNAH BERMANHAJ SALAF"
tentu tidak akan nisbah ke muhammad bin abdul wahab yang jaraknya amat jauh dari generasi awal.
dan ini artinya Ahlussunnah versi wahabi berbeda Maksudnya walau mengatas namakan Ulama salaf karna jelas mereka justru memahami Sunnah memalalui akal Ijtihad muhmmad bin abdul wahab terlebih dahulu.sedangkan aswaja langsung memahami sunnah pada kajian Ulama besar aswaja yang rata rata memang Ulama salaf dan tentunya lebih ORIGINAL ( tidak dikurangi dan tidak pula di lebih lebihkan) .

Untuk memahami sunnah sebenarnya agar tetap benar..maka HUKUM SANAD adalah
NOMOR SATU karna jika keluar dari kaidah sanad maka gurunya adalah syetan,mengada ada.. bisa berkurang dan bisa di tambah tambahi guna untuk melancarkan agar ajarannya diterima sebagimana sekte yang keluar dari al jama`ah dan tentu hal begini meragukan (subhat ). ajaran yang subhat begini..namanya juga subhat(meragukan)..harus di tinggalkan kalau tak ingin makin dalam Rusak pemahaman.Sesunghya syetan dan dajal itu menciptakan perkara perkara subhat, dan yang salah kelihatan benar dan yang benar kelihatan salah dan hanya Insan Insan yang JELI bisa membedakan.dan itu di dorong dengan Ilmu yang didapat dari jalan SANAD,bukan menduga duga dengan akal sendiri benar atau salahnya.ingat,yang dirasa masuk akal belum tentu benar.dan yang dianggap benar belum tentu masuk akal.(ajaran syetan).sesungguhnya aga,a ini kokoh bukan karna akal pribadi melainkan DALIL yang jelas dan tidak subhat..dan tentunya dalil ini hanya di dapat dari Dokument asli. dan uraiaan Ulama bersanad.dan sekali lagi ingatklah bahwa hukum sanad itu sesungguhnya MENGUTAmaKAN AMANAH generasi sebelumnya dan kebaranian luas biasa di bawah Sumpah' DEMI ALLAH dengan siap dalam setiap RESIKO"

lihatlah perkataan Ulama salaf :

berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu”
(Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

dan sebagAi bahan pertimbangan maka perlu juga diperhatikan..hal hal berikut JIKA MEMANG MENGIKTI JEJAK RASULULLAH :

Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al jamaaah ( Khilafah Islam ), maka ia mati sebagaimana bangkai jahiliyyah “ ( H.R. Muslim ).

Nabi juga memerintahkan supaya berpegang tegung pada jamaah mayoritas.Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168). “Barangsiapa yang menolak sunnahku maka bukan dari golonganku” (Shahih Bukhari).

Segala puji bagi Allah dan kemuliaan Nabiku Muhammad bin abdullah..Alhamdulillah sampai sekarang Aswaja berdiri KOKOH dan tetap menjadi kelompok besar walau banyak tantangan untuk menjaga eksistensinya di dunia Islam.INTAHA.

Sumber : makalah pribadi

No comments:

Post a Comment